Cuteki christmas cards

Senin, 22 Desember 2014

Laporan Kunjungan Koperasi PEMK Kelurahan Lebak Bulus

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.         Latar Belakang Koperasi PEMK Kelurahan Lebak Bulus
Koperasi PEMK Kelurahan Lebak Bulus adalah Koperasi Jasa Keuangan berdiri sejak tahun 2007 dengan pola pengelolaan yang baru berdasarkan PERGUB No. 100 Tahun 2008 Tentang Pembentukan, Organisasi dan Tata Kerja Unit Pengelola Dana Bergulir Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Kelurahan Tanggal 29 Oktober 2008, koperasi ini didirikan atas inisiatif berbagai pihak khususnya Dinas UMKMP Provinsi DKI Jakarta dan tokoh masyarakat dengan difasilitasi oleh Lurah dan Dewan Kelurahan serta pemerintah setempat dengan tujuan sebagai sarana bagi pelayanan keuangan anggota atau masyarakat kelurahan khususnya dan UMKM pada umumnya di wilayah Kelurahan Koperasi Lebak Bulus. Dengan dukungan pemerintah DKI Jakarta melalui Dinas Koperasi dan Lembaga Pengelola Dana bergulir semakin memantapkan pendirian koperasi ini.
1.2.         Visi dan Misi Koperasi PEMK Kelurahan Lebak Bulus
Visi:
Terwujudnya masyarakat kelurahan yang sejahtera, mandiri, adil dan berdaya.
Misi:
1.      Memaksimalkan pelayanan kepada masyarakat dengan tanpa membedakan status sosial serta jenis kelamin.
2.      Menjadi lembaga keuangan mikro sebagai lembaga yang memberikan berbagai jasa keuangan secara bisnis bagi masyarakat yang berpenghasilan rendah atau miskin serta usaha mikro.
3.      Meningkatkan kemampuan koperasi dalam menjangkau modal dari berbagai sumber dan membangun kerjasama dengan lembaga keuangan maupun non keuangan baik nasional maupun internasional secara berkelanjutan.
4.      Mendukung perluasan kesempatan kerja dengan pengentasan kemiskinan.
5.      Memberikan bimbingan kepada anggota dan pengusaha mikro melalui penumbuhan dan pendampingan kelompok.
1.3.         Tujuan Koperasi PEMK Kelurahan Lebak Bulus
1.3.1.      Meningkatkan jumlah kelompok peminjam dan penabung menjadi 500 orang dengan sosialisasi diantara kelompok usaha dan masyarakat calon pemanfaat.
1.3.2.      Mempertahankan nasabah lama dan menambah jumlah nasabah baru dengan selalu menjadikan nasabah sebagai mitra usaha.
1.3.3.      Meningkatkan sumber-sumber dana Koperasi PEMK Kelurahan Lebak. Bulus dengan bekerjasama dengan Bank Syariah, BUMN maupun investor lainnya
1.3.4.      Menjaga keberlangsungan Koperasi PEMK Kelurahan Lebak Bulus dengan bekerja secara professional, adil, jujur dan amanah.
1.4.        

RAPAT ANGGOTA TAHUNAN
(RAT)
 
Struktur Organisasi


Jenis Koperasi                         : Koperasi Jasa Keuangan
Bentuk Badan Hukum             : Koperasi
Metode Operasional                : Koperasi Bagi Hasil
Nama Koperasi                       : Koperasi Jasa Keuangan PEMK Kelurahan Lebak Bulus
Alamat                                    : Jl.Manunggal Jaya, Lebak Bulus.
Kecamatan                              : Cilandak
DT II                                       : Jakarta Selatan
Telepon                                   : (021)-91274870 / (021)-91733774
Aktivitas Bisnis                       : Simpan dan Pinjaman perorangan dan kelompok dengan sistem bagi hasil.
Ketua Pengurus                       : Drs. T. Tampubolon
Manager Koperasi                   : Ahmadun Mubarok, S.E
Pembukuan                             : Jamaludin, S.Pd
Kasir                                        : Chesi Pratama Dewi, A.Md
Unit Usaha                              : Unit Pelayanan Jasa Keuangan
Jumlah Pendiri Koperasi         : 22 orang
Jumlah Staff                            : 4 orang; 1 Manager, 1 Akuntan, 1 Kasir, dan 1 Pendamping UMI.
1.5.         Aspek Legal Koperasi PEMK Kelurahan Lebak Bulus


1.6.         Profil Program Koperasi PEMK Kelurahan Lebak Bulus



BAB II
PELAYANAN KEUANGAN
2.1.         Analisa Pelayanan Keuangan yang dilaksanakan
2.1.1.      Faktor-faktor penting dalam pelayanan keuangan di Koperasi PEMK Kelurahan Lebak Bulus dapat digambarkan melalui kekuatan-kekuatan dan kesempatan-kesempatan berikut ini;
a.       Lokasi kantor berada di tempat yang strategis, yaitu di dekat kantor kelurahan.
b.      Pengurus dan manajemen memiliki komitmen yang kuat untuk membangun dan menjaga kelangsungan kelembagaan.
c.       Hubungan yang baik antara pengawas, pengurus dan pengelola atau manajemen.
d.      Memiliki nasabah yang loyal dan ikut serta dalam mendorong kemajuan Koperasi PEMK Kelurahan Lebak Bulus (data calon nasabah/pengajuan usulan)
e.       Mendapatkan kepercayaan dari anggota, masyarakat dan lembaga lainnya.
f.       Koperasi PEMK merupakan lembaga otonom dan dapat melaksanakan semua program keuangan mikro.
g.      Pengurus dan pengelola dapat menerjemahkan visi dan misi lembaga dengan baik dan dapat memahami sejarah keberadaan lembaga.
h.      Mampu melaksanakan pelayanan kredit mikro.
i.        Mampu melaksanakan ekspansi pembiayaan dan pengembangan usaha dari waktu ke waktu diantaranya penghimpunan dana pihak ketiga.
2.1.2.      Faktor yang merupakan titik lemah lembaga ini dalam upaya peningkatan kapasitasnya adalah;
a.       SDM Koperasi PEMK Kelurahan Lebak Bulus masih perlu ditingkatkan baik kualitas maupun kuantitasnya.
b.      Sarana dan prasarana operasional lembaga masih perlu dilengkapi seperti fasilitas kendaraan operasional, komputer yang belum memadai, berkas surat dan sejenisnya, serta perlengkapan kearsipan/filling dan brankas.
c.       Jumlah modal lembaga yang perlu terus ditingkatkan.
d.      Pemahaman masyarakat terhadap PPMK sebagai dana hibah sehingga PEMK dijadikan persamaan dari PPMK oleh sebagian masyarakat sehingga nasabah ada yang menunggak dalam cicilan setiap bulannya.
2.1.3.      Analisa SWOT Koperasi PEMK Kelurahan Lebak Bulus



2.2.         Jenis Pelayanan Keuangan dan Jasa
2.2.1.      Pelayanan Penyaluran Dana
Pelayanan Pinjaman Kelompok
Pelayanan Pinjaman Individu
Penyaluran dana dengan metode bagi hasil.
Kredit dengan metode bagi hasil sistem bagi hasil.
Tanpa agunan/jaminan.
Tanpa agunan/jaminan.
Nominal pembiayaan antara Rp 5.000.000 s.d Rp 15.000.000
Nominal penyaluran Rp 1.000.000 s.d Rp 5.000.000
Jumlah peminjam yang terlayani 150-500 orang.
Jumlah nasabah yang terlayani berkisar antara 100-150 orang.
Terdiri atas 30-100 kelompok.
Sasaran kredit laki-laki dan perempuan pelaku usaha kecil dan mikro.
Anggota merupakan pelaku usaha mikro, kecil.
Maksimal jangka waktu kredit 10-12 bulan.
Jangka waktu peminjaman antara 24 bulan.
Angsuran setiap bulan.
Bagi hasil equivalen sama dengan 24% per tahun.
Bagi hasil pinjaman antara 6-12% per bulan.
2.2.2.      Pelayanan Penghimpunan Dana
Produk tabungan masih belum menjadi produk utama. Saat ini belum terdapat nasabah tabungan. Kondisi ini disebabkan karena terbatasnya tenaga lapangan yang ada dan belum tersedianya standar operasional prosedur produk tersebut. Namun demikian, pada awal tahun 2010 produk tabungan akan menjadi salah satu produk dengan perhatian yang sama dengan produk pembiayaan.
2.2.3.      Asuransi Mikro
Saat ini program asuransi kredit mikro belum dilaksanakan. Namun, Koperasi PEMK Kelurahan Lebak Bulus secara berkala akan menyelenggarakan program tersebut sejak tahun semester pertama tahun 2009 hingga selamanya mengikutsertakan nasabahnya dalam program asuransi kredit bekerjasama dengan lembaga asuransi pembiayaan seperti TAFAKUL Indonesia.
Berikut ini adalah tabel produk dan jasa Koperasi PEMK Kelurahan Lebak Bulus:
Produk dan Jasa Saat Ini
Jenis Produk / Jasa
Tujuan
Ciri-ciri Produk / Jasa (Fitur)
Penetapan Harga (Pricing)
Cara / Mekanisme Pemanfaatan
Uji Coba (Pilot Project)
Wilayah Operasional
Pembiayaan Kelompok
Pelayanan modal usaha untuk segmen usaha mikro.
Jumlah modal 5-15 juta rupiah, Harus berkelompok, Jangka waktu pinjaman 24 bulan, Sistem pembayaran bulanan.
Bagi hasil 25% per tahun, Biaya Administrasi Rp 20.000
Anggota membentuk kelompok, Mengikuti LWK, Pengajuan, Pertemuan Mingguan, Pencairan Dana, Angsuran.
Segmen Perdagangan.
RW 01-08 khusus pedagang dan usaha baru.
Pembiayaan Jasa
Pembayaran rekening dan pajak berjalan serta pembelian barang
1.      Jasa Pembayaran Listrik, PAM, Gas, PBB, STNK.
2.      Kredit Barang Konsumtif.
Penetapan biaya jasa langsung sebesar 25% dari tagihan.
Anggota membayar simpanan pokok dan wajib sedangkan sukarela tiap minggunya.
KOMPLEK RUSUN CILANDAK
RT 01-08
Asuransi Kredit Mikro
Jaminan keamanan bagi asset usaha mikro dan LKM KJK
Membayar premi pinjaman yang diterima, Dilakukan secara perorangan maupun kolektif, Hanya bayar sekali selama masa pinjaman.
Biaya Administrasi sebesar Rp 20.000
Diajukan oleh peserta usaha mikro melalu LKM KJK dan anggota mendapatkan kartu asuransi.
Pedagang pasar dan usaha mikro lainnya
SELURUH RW
Produk dan Jasa Ke Depan
Penghimpunan Dana (Tabungan dan Deposito)
Sebagai sumber dana lainnya
Simpanan Pokok, Wajib, Modal Penyertaan, Hibah, dan Sukarela.
Biaya Administrasi sebesar Rp 20.000
Anggota menghimpun dananya di LKM.
Anggota kelompok yang sudah terbentuk.
SELURUH RW




BAB III
RENCANA STRATEGIS
3.1.         Gambaran Anggota dan Calon Anggota
Jenis-jenis usaha anggota dan calon anggota dari Koperasi PEMK Kelurahan Lebak Bulus adalah:
3.1.1.      Jenis Usaha Pedagang Pasar
a.       Pedagang Buah
b.      Pedagang Sayuran
c.       Pedagang Sembako
d.      Pedagang Daging
e.       Pedagang Pakaian
f.       Pedagang Aksesoris Rambut dan Mainan.
3.1.2.      Jenis Usaha Home Industry
a.       Produsen Kue Jajanan Pasar
b.      Industri Mikro Kerupuk
c.       Industri Sepatu.
3.1.3.      Jenis Usaha Makanan
a.       Makanan Kaki Lima
b.      Makanan Ringan/Jajanan Pasar
c.       Makanan Tradisional
d.      Catering.
3.1.4.      Jenis Usaha Jasa
a.       Usaha Sablon
b.      Pembuatan Stempel
c.       Percetakan
d.      Voucher dan Aksesoris HP
e.       Pencucian Mobil dan Motor.
3.1.5.      Jenis Usaha Kerajinan
a.       Kerajinan Tangan
b.      Daur Ulang.
Umumnya rata-rata dana yang dibutuhkan antara Rp 1.500.000 s.d Rp 5.000.000. Anggota dengan kelompok usaha home industry memerlukan waktu lama dalam jangka waktu pinjaman yang diberikan dan modal yang diperlukan berkisar Rp 2.000.000 s.d Rp 10.000.000. Sedangkan kelompok pedagang pasar, makanan dan jasa seperti umumnya mereka memiliki aktivitas harian dengan rata-rata modal yang diperlukan antara Rp 1.500.000 s.d Rp 7.000.000.
Berikut tabel gambaran anggota dan calon anggota di Koperasi PEMK Kelurahan Lebak Bulus sebagai berikut:
No.
Jenis Usaha
Jumlah
Wilayah
Perkiraan Kebutuhan Modal
1
Pedagang Pasar
277
RW. 01 - 08
Rp 985.000.000
2
Home Industry
37
RW. 01 - 08
Rp 125.000.000
3
Jenis Usaha Makanan
265
RW. 01 - 08
Rp 825.000.000
4
Jenis Usaha Kerajinan
27
RW. 01 - 08
Rp 135.000.000
5
Jenis Usaha Jasa
276
RW. 01 - 08
Rp 980.000.000
3.2.         Peluang-Peluang Potensial
Peluang-peluang yang cukup potensial bagi perkembangan Koperasi PEMK Kelurahan Lebak Bulus ke depan adalah:
3.2.1.      Belum dikembangkannya produk tabungan dan jangkauan wilayah yang cukup luas, jika produk tabungan cukup mendapatkan perhatian serius maka akan semakin memperkuat struktur modal dan prospek usaha di masa datang.
3.2.2.      Terdapat pasar pagi dan pasar malam yang belum dilakukan pendekatan dan kerjasama, sehinggu jumlah anggota pinjaman kelompok masih terus dapat ditingkatkan sehingga mampu mempercepat proses bisnis bagi koperasi.
3.2.3.      Koperasi ini merupakan salah satu lembaga yang cukup mendapatkan kepercayaan dari pengusaha mikro dalam pengelolaan dana sehingga peluang untuk menjadi besar sangat terbuka.
3.2.4.      Lokasi Kelurahaan Lebak Bulus terdapat pusat industri kecil dan Pasar Jiung.


BAB IV
RENCANA OPERASIONAL
4.1.         Strategi Operasional Usaha Yang Akan Ditempuh
Strategi operasional bisnis yang akan ditempuh oleh Koperasi PEMK Kelurahan Lebak Bulus sebagai berikut:
4.1.1.      Memperluas jaringan pelayanan kepada masyarakat khususnya akses bagi pelaku usaha mikro.
4.1.2.      Menetapkan sasaran pasar-pasar mikro yang ada disekitar LKM.
4.1.3.      Membentuk kelompok-kelompok di setiap RW dengan target utama keluarga miskin yang memiliki usaha.
4.1.4.      Untuk jangka pendek, menggabungkan antara konsep bisnis dengan konsep sosial.
4.1.5.      Jangka waktu pinjaman tidak melebihi satu tahun.
4.1.6.      Memanfaatkan interaksi social antar individu di dalam masyarakat.
4.2.         Rencana Operasional dan Proyeksi Keuangan
4.2.1.      Bidang SDM
Pada akhir tahun 2009 akan dilakukan penambahan personalia manajemen dan pengembangan struktur jumlah personalia manajemen diproyeksikan sebanyak 1-2 orang. Untuk struktur koperasi pada awal pendirian dikelola oleh tiga orang dengan struktur jabatan rangkap (Manager dan Pendamping UMI), (Pembukuan dan Pemasaran), (Administrasi dan Kasir). Selanjutnya akan direncanakan untuk penambahan 1 orang bagian pembukuan dan 1 orang bagian Pendamping UMI.
4.2.2.      Bidang Keuangan
4.2.2.1.            Proyeksi Keuangan
Berikut ini adalah beberapa data proyeksi keuangan Koperasi PEMK dari penghimpunan data, sebagai berikut;




Tabel Proyeksi Penghimpunan Dana
Sumber Dana
Semester 1
Semester 2
Semester 3
Semester 4
Dana Penyertaan UPDB-PEMK
Rp 1.525.000
Rp 560.000
Rp 1.055.000
Rp 545.000
Tabungan/Simpanan
Rp 46.450
Rp 42.400
Rp 69.550
Rp 66.550
Deposito / Simpanan Berjangka
Rp 0
Rp 0
Rp 0
Rp 0
Total
Rp 1.571.450
Rp 602.400
Rp 1.124.550
Rp 611.550
(dalam satuan ribuan Rupiah)1
Target penghimpunan dana terus meningkat dari tahun ke tahun sesuai dengan kebutuhan operasional lembaga. Namun demikian, besarnya dana yang diharapkan berasal dari investasi masih terlalu besar dibandingkan dengan dana-dana yang berasal dari pihak ketiga (tabungan dan deposito). Manajemen perlu meningkatkan pemasaran produk dana kepada masyarakat demi pencapaian yang lebih baik.
Tabel Rencana Penyaluran Dana dan Jumlah Anggota
Item
Semester 1
Semester 2
Semester 3
Semester 4
Total Penyaluran
Rp 1.571.450
Rp 602.400
Rp 1.124.550
Rp 611.550
Total Anggota
385 orang
525 orang
800 orang
935 orang
Rata-Rata per Anggota
Rp 4.000
Rp 1.150
Rp 1.405
Rp 654
            Rata-rata jumlah pinjaman yang diterima nasabah masih dibawah angka Rp 5.000.000. Namun demikian, jumlah dana yang diperlukan cukup besar. Tetapi, melihat perkembangan target penambahan anggota berkisar antara 5-10 % menunjukkan bahwa target operasional masih dalam batas kewajaran yang bisa dicapai.


Tabel Jumlah Anggota Per Wilayah
Wilayah (RW)
Populasi [2]
Target Anggota
01
2424 orang
97 orang
02
2839 orang
114 orang
03
3245 orang
130 orang
04
3277 orang
131 orang
05
2079 orang
83 orang
06
2397 orang
96 orang
07
2800 orang
112 orang
08
2968 orang
119 orang
Total
22.029 orang
882 orang
[2] berdasarkan data laporan kerja tahunan kelurahan LEBAK BULUS tahun 2008
4.2.2.2.            Proyek Performance Keuangan
Proyeksi Laba/Rugi
Item
Semester 1
Semester 2
Semester 3
Semester 4
Laba
Rp5.239.047,92
Rp 88.664.556,83
Rp 211.885.063,51
Rp 359.254.441,95
Rugi




NPL (Kredit Macet)





Proyeksi Pengembalian Dana UPDB-PEMK dan Bagi Hasil
Item
Semester 1
Semester 2
Semester 3
Semester 4
Pengembalian Pokok
Rp 8.750.000.000
Rp 389.791.666,67
Rp 479.791.666,67
Rp 397.500.000
Penyetoran Bagi Hasil
Rp 21.114.876,77
Rp 32.986.089,00
Rp 30.954.479,72
Rp 32.004.001,14
Total
Rp 8.771.114.876,77
Rp 442.777.755,67
Rp 505.746.146,39
Rp 32.407.501,14



Proyeksi Peminjam dan Petugas Pembiayaan
Item
Semester 1
Semester 2
Semester 3
Semester 4
Peminjaman aktif
150
195
250
287
Petugas Pembiayaan
4
4
4
4
Perbandingan antara jumlah peminjam dan petugas pembiayaan cukup efektif berkisar antara 100 hingga 110 peminjam per petugas pembiayaan.

Portfolio Petugas Pembiayaan
Item
Semester 1
Semester 2
Semester 3
Semester 4
Rata-rata portpolio per petugas pembiayaan
Rp 39.286.500
Rp 150.600.000
Rp 281.137.500
Rp 152.887.500

Proyeksi Dana yang Dibutuhkan
Item
Semester 1
Semester 2
Semester 3
Semester 4
Pendapatan (A)
Total Pendapatan (laba)
Rp 71.023.882,45
Rp 153.899.165,18
Rp 196.794.199,61
Rp 241.097.860,97
Modal Koperasi
Rp 54.100.000,00
Rp 42.400.000,00
Rp 69.550.000,00
Rp 66.500.000,00
Total Tabungan & Deposito
Rp        -
Rp -
Rp -
Rp -
Total Pendapatan (A)
Rp 125.123.882,45
Rp 196.299.165,18
Rp 266.344.199,61
Rp 307.597.860,97
Pengeluaran (B)
Total Biaya Operasional
Rp 66.386.458,33
Rp 71.534.981,48
Rp 74.051.865,71
Rp 76.130.695,09
Total Biaya Pembelian Sarana Inventaris
Rp 31.320.000,00
Rp -
Rp -
Rp -
Total Penyaluran
Rp 1.525.000.000,00
Rp 560.000.000,00
Rp 1.025.000.000,00
Rp 545.000.000,00
Total Pengeluaran (B)
Rp 1.622.706.458,33
Rp 631.534.981,48
Rp 1.099.051.865,71
Rp 621.130.695,09
Selisih (B-A)
Dana yang dibutuhkan (selisih B-A)
Rp (1.497.582.575,88)
Rp (435.235.816,30)
Rp (832.707.666,10)
Rp (313.532.834,12)

4.2.3.      Bidang Sarana dan Prasarana Kerja
Sarana fisik untuk kantor yang ada sekarang terlalu sempit dan kedepannya diperlukan penyewaan kantor baru yang lebih luas. Kedepan diperlukan sarana fisik yang lengkap untuk sebuah lembaga keuangan. Ada pun yang sangat dibutuhkan adalah :
1.      Penyewaan kantor baru yang lebih luas
2.      Meja counter teller
3.      Brangkas
4.      Computer
5.      Sepeda motor
4.2.4.      Bidang budaya dan sistem kerja
a.       Kebijakan dalam sistem recruitment pegawai LKM.
b.      Pendidikan dan pelatihan yang terencana dan berkelanjutan.
c.       Penerapan bonus dan tunjangan yang jelas dan terukur.
d.      Penyediaan buku pedoman kerja sehingga diharapkan dapat dicapai standar pelayanan yang sesuai dengan misi LKM.
e.       Formasi staffing yang sesuai dengan ratio beban kerja dan strategi bisnis.
f.       Sistem pengawasan internal dan sistem pelayanan operasional maupun secara fungsional.
4.2.5.      Bidang teknologi dan alat kerja
a.       Bagian pembukuan untuk mencatat transaksi masih dengan sistem manual, kedepan akan menggunakan software sistem dengan pengembangan dan pelatihan untuk pembukuan bagian pembukuan.

b.      Bagian tabungan masih dilakukan dengan pencatatan manual dalam buku tabungan, diharapkan kedepan dapat menggunakan software passbook printer.

Senin, 13 Oktober 2014

Kopkar “Mekar” Gudang Garam, Kediri.

Spesialis Promo Ramadhan

Untuk tetap eksis, setiap koperasi punya kiat masing-masing mulai dari program-program yang biasa-biasa saja hingga yang unik dan menarik. Contohnya adalah Kopkar Mekar Gudang Garam Kediri yang mengusung promosinya setiap Ramadhan.  Kopkar ini menggelar obral besar (big sale) dengan harga sangat murah, baik untuk sekitar 25 ribu orang anggotanya maupun masyarakat umum.


Tradisi promo Ramadhan Big Sale ini, sudah berlangsung bertahun-tahun dan responsnya sangat tinggi. Usaha Swalayan koperasi karyawan pabrik rokok kretek ini juga sangat solid dan mampu memberikan kontribusi cukup signifikan bagi peningkatan usaha koperasi. Hingga per Desember 2011 koperasi ini membukukan volume usaha mencapai Rp 68 miliar dengan asset Rp 128 miliar.

Usaha Swalayan, kata Sis Suwardjono, Ketua Kopkar Mekar PT Gudang Garam, Tbk merupakan andalan disamping unit simpan pinjam. Swalayan ini bukan hanya untuk anggota tapi juga melayani masyarakat umum. Sementara bagi masyarakat umum, harga penjualan yang dipatok Swalayan Mekar sangat kompetitif dibandingkan dengan harga di pasaran.

Hal yang cukup menarik, Swalayan ini dibangun cukup megah dengan cat yang cukup mencolok, sehingga menarik banyak perhatian orang.

Daftar Pustaka:
Muchtar, Irsyad. Muhammad Taufiq. 100 Koperasi Besar. 2014. Peluang. Jakarta.

Jumat, 05 September 2014

Commuterline Jabodetabek, sudah baik kah?

Hellooooo! Maaf baru sempat bloging dan berbagi cerita lagi. Kali ini saya mau cerita tentang pengalaman aku menjadi pengguna setia perjalanan commuterline.
Hm.....ketika saya menginjak masa yang lebih tinggi lagi, alias kuliah. Saya memilih salah satu pts di daerah Depok, sedangkan saya sendiri berdomisili di daerah Bekasi. Jadi, untuk menempuh perjalanan menuju tempat perkuliahan, saya menggunakan commuterline. Mengapa saya memilih menggunakan layanan jasa kereta api commuterline Jabodetabek? Pertama karena ketika awal masuk kuliah, kebetulan saya kebagian di kampus yang dekat dengan stasiun. Yang kedua, karena harganya lebih terjangkau untuk kantong mahasiswa. Dan yang terakhir, lebih aman dan nyaman.
Awalnya saya berpikir seperti itu...
Namun, makin kesini...pengguna commuterline semakin banyak dan semakin parah desakannya. Mungkin karena mereka sudah berdalih ke transportasi massal yang aman, nyaman, dan murah. Serta mungkin lebih efiesien dalam waktu, karena macetnya Jakarta semakin hari semakin tak terelakkan.
Selama satu semester, saya kuliah pulang pergi Depok-Bekasi. Karena jadwal mahasiswa semester 1 belum terlalu padat.
Terkadang, saya sebal dengan keadaan ini. Saya naik dari St.Bekasi, namun kereta sudah penuh. Bahkan sudah ada yang berdiri. Insane! Gimana bisa? Awalnya saya berpikir seperti itu, tapi lama-kelamaan saya tahu. Ternyata mereka naik menuju arah Bekasi dan balik lagi ke Jakarta demi mendapatkan tempat duduk! Dan salah satu yang paling saya sebalkan, sudah tau kereta terlalu penuh. Masih ada saja yang memaksa masuk. Wajar sih kalau karena waktu, tapi seharusnya mereka memikirkan juga bagaimana penumpang lain yang sudah ada di dalam kereta dan bernafas pun susah.
Dan satu hal lagi, yang saya sering dengar dari ibu-ibu para pengguna commuterline "Daripada nahan, mending nyender aja dek". Pernah terpikir gak sih itu ibu-ibu kalau yg jadi nahan itu?? Menurut saya sih sama saja, dipinggir deket jendela atau yang ditengah-tengah. Sama-sama bertahan. Cuman ada beberapa pengguna yang -enakbanget- menyender.
Lagi awal-awal hanya pegal-pegal, lalu ngilu-ngilu. Sampai pada titik klimaksnya, minggu ke-3 bulan kemarin. Saya berangkat ke kampus pagi-pagi, dan kereta pemberangkatan selanjutnya masih berada di St.Jatinegara. Karena saya terburu-buru, akhirnya saya masuklah ke kereta itu. Sudah penuh, namun tak terlalu berdesak-desakkan. Keadaan itu berlangsung hingga St.Klender Baru (biasa terkenal Pondok Kopi). Namun, setelah memasuki St.Buaran, desakkan lebih parah dan saya bertahan dengan posisi miring bertahan di dekat jendela sampai St.Manggarai. Pada saat itu, saya merasakan ngilu yang teramat sakit, yang tak pernah saya rasakan sebelumnya. Ngilu, panas, sakit. Itu yang saya rasa, bahkan sebelum turun (transit di St.Manggarai), saya hampir tak bisa bergerak sama sekali kaki sebelah kiri saya. Namun, kereta ingin melanjutkan perjalanan berikutnya. Saya buru-buru lah untuk turun, dengan menyeret-nyeret kaki sebelah kiri saya. Setelah sampai di peron, saya berdiri diam tak bisa bergerak. Sampai akhirnya saya mencoba untuk bergerak, dan terdengar bunyi "krek" dari lutut sebelah kiri saya. Namun saya bisa berjalan dengan rada normal, namun tak terasa sakit. Hingga akhirnya, minggu berikutnya saya baru merasakan ngilu yang teramat parah. Saya hanya diam dirumah dan mengoleskan salep meredakan ngilu sendi-sendi. Karena saya pikir mungkin hanya ngilu biasa yang saya sering alami. Namun, tak kunjung sembuh, akhirnya saya check-up lah ke RSUD, divisi ortopedi. Dan benar praduga sebelumnya, lutut saya bergeser. Dan harus terapi kecil dirumah setiap pagi dan sore selama 6 bulan.
keadaan lutut saya yang bengkok
Mungkin ini memang salah satu kritik sekaligus saran untuk PT KAI Commuterline Jabodetabek agar meningkatkan sarana dan prasarana pelayanan Commuterline Jabodetabek. Dan semoga ditambah lagi armadanya, agar kejadian seperti saya ini tak terulang bagi pengguna yang lain. Menurut saya, commuterline saat ini sudah jauh lebih baik dibandingkan ketika saya masih berada di bangku SMA. Namun, karena keterbatasan ini lah, mungkin ada beberapa warga Jabodetabek yang masih menggunakan kendaraan pribadi. Seperti alasan yang saya sudah jelaskan diatas, mungkin dengan makin banyaknya armada, kita bisa mewujudkan mimpi agar warga Jakarta dan beberapa kota satelit bisa berdalih ke alat transportasi umum guna mengurai kemacetan, efisiensi waktu, dan yang pasti harus ramah lingkungan:)

Info mengenai Kereta Commuterline Jabodetabek, bisa dilihat disini:
http://id.wikipedia.org/wiki/KA_Commuter_Jabodetabek,
http://www.krl.co.id/BERITA-TERKINI/problem-tersisa-di-krl-jabodetabek-yang-harus-dibereskan.html,
http://finance.detik.com/read/2013/04/04/121820/2211359/4/mengintip-rencana-pembangunan-jaringan-kereta-di-jabodetabek-2020,
http://www.koran-sindo.com/node/401699.

Tambahan Tips Perjalanan (dikutip dari http://www.krl.co.id/tips-perjalanan.html)
  • Yakinkan anda dalam keadaan sehat.
  • Rencanakan dengan tepat, waktu dan tujuan perjalanan Anda yang hendak dicapai.
  • Periksa dengan seksama jadwal Kereta Api tujuan anda, bila anda merasa kurang yakin dan ragu, sebaiknya segera dapatkan informasi dari petugas resmi.
  • Membawa barang dan uang tunai secukupnya, dompet sebaiknya jangan ditaruh di saku. Siapkan selalu uang receh secukupnya dan simpan di saku baju/celana depan .
  • Barang berharga lainnya (dompet, telepon selular, dll) disimpan saja dibagian dalam (terhalang oleh barang lain) tas atau ransel yang selalu Anda pegang. Tas atau ransel itu sebaiknya digendong di depan atau selalu dalam jangkauan pandangan mata Anda.... jangan lupa juga silent-kan telepon selular anda.
  • Pakailah pakaian yg sopan dan berbahan nyaman..., khusus untuk kaum wanita pekerja kantoran yg harus menggunakan sepatu berhak tinggi atau rok (mini) di tempat kerjanya, disarankan anda sekalian memakai celana atau sepatu/sandal pengganti selama dalam perjalanan.
  • Hindari penggunaan perhiasan yang berlebihan dan penggunaan barang-barang berharga seperti telepon selular atau kamera.
  • Belilah tiket pada loket penjualan tiket.
  • Kereta yang kosong atau sesak sama bahayanya, dua kondisi itu ideal bagi pencopet. Mereka biasa bergerombol, tiga sampai lima orang. Modus gerombolan pencopet sangat banyak tetapi umumnya mereka berusaha mengalihkan perhatian korban dengan menjatuhkan barang atau menawarkan sesuatu. Begitu perhatian korban terbagi, aggota komplotan yang lain beraksi.
  • Dalam Kereta yang sesak, Anda perlu waspada saat naik atau turun. Jika Anda merasa dihalang-halangi saat naik atau turun, waspadalah, hal itu bisa menjadi tanda bahwa pencopet tengah beraksi.
  • Tetap waspada, jangan menerima tawaran minuman atau makanan dari orang yang baru Anda kenal. Dalam banyak kasus, orang terbius setelah makan atau minum minuman atau makanan yang ditawarkan oleh orang yang baru dikenal. Jika ada tawaran seperti itu tolaklah dengan santun.
  • Jangan memberi kesan anda sedang bingung… pelaku kriminal bisa membedakan dari raut wajah seseorang, apakah anda sasaran empuk.
  • Kalau sudah dekat dengan tempat tujuan (lokasi turun) segera merapat ke pintu.
  • Berdoalah senantiasa menurut agama dan kepercayaan masing-masing sebelum perjalanan.

Rabu, 28 Mei 2014

KEBIJAKAN PEMERINTAH DALAM EKONOMI TERBUKA

Dalam perekonomian terbuka, masalah yang dihadapi suatu negara menjadi lebih rumit, dan kebijakan yang perlu dirumuskan dan dilaksanakan pemerintah perlu dipikirkan dengan lebih baik. Dalam perekonomian tertutup hanya ada dua masalah yang dipikirkan pemerintah dalam merumuskan kebijakan ekonomi; masalah penggangguran dan masalah inflasi. Dalam perekonomian terbuka, di samping memperhatikan masalah tersebut harus pula diperhatikan efek dari kebijakan pemerintah yang dirumuskan terhadap neraca pembayaran dan kestabilan kurs pertukaran. Defisit dalam neraca pembayaran akan menimbulkan efek buruk terhadap kestabilan kurs pertukaran. Pada akhirnya kedua masalah itu akan menimbulkan efek buruk kepada masalah penggangguran dan kestabilan harga-harga.
Pada dasarnya masalah yang dihadapi oleh sesuatu perekonomian terbuka akan terbentuk salah satu dari empat masalah berikut;
i.                     Perekonomian menghadapi masalah penggangguran, tetapi terdapat surplus dalam neraca pembayaran.
ii.                   Perekonomian menghadapi masalah inflasi tetapi terdapat surplus dalam neraca pembayaran.
iii.                  Perekonomian menghadapi masalah penggangguran dan di samping itu menghadapi masalah defisit dalam neraca pembayaran.
iv.                 Perekonomian menghadapi masalah inflasi dan di samping itu menghadapi masalah defisit dalam neraca pembayaran.
Dalam kasus (i) dan (ii) neraca pembayaran adalah dalam keadaan menguntungkan (mempunyai surplus), maka yang perlu dipikirkan hanyalah mengatasi masalah penggangguran (i) atau masalah inflasi (ii). Masalah yang harus dihadapi menjadi lebih rumit apabila bentuk masalah yang dihadapi adalah seperti kasus (iii) dan (iv).
Penggangguran atau inflasi yang diikuti pula oleh masalah defisit dalam neraca pembayaran memerlukan langkah-langkah sebagai berikut:
A.      KEBIJAKAN MEMINDAHKAN PERBELANJAAN
Yang dimaksudkan dengan “kebijakan memindahkan perbelanjaan” adalah langkah-langkah pemerintah untuk mengatasi masalah deficit dalam neraca pembayaran yang akan mengakibatkan pertambahan ekspor dan pengurangan impor. Kebijakan memindahkan perbelanjaan dijalankan apabila defisit neraca pembayaran wujud ketika perekonomian juga menghadapi masalah penggangguran. Kebijakan memindahkan perbelanjaan dapat dijalankan untuk mengatasi kedua masalah di atas.
Langkah-langkah yang akan mengurangi impor dan mendorong konsumsi barang dalam negeri adalah
1.       Melakukan pembatasan impor.
Ini dapat dilakukan dengan menaikkan pajak impor (tarif). Di samping itu dapat pula dijalankan dengan menggunakan kuota dan melakukan kampanye untuk membeli barang dalam negeri.
2.       Menekan/mengurangi penggunaan valuta asing.
Pemerintah (melalui bank sentral) mencatu penggunaan mata uang asing. Masyarakat dan para pengusaha haruslah menerangkan tujuan mereka membeli valuta asing. Pemerintah lebih mengutamakan pengguna valuta asing untuk mengimpor barang keperluan pokok dan bahan mentah sektor industri dan tidak mendorong usaha mengimpor barang-barang mewah.
3.       Menurunkan nilai mata uang (devaluasi)
Langkah ini menyebabkan barang impor menjadi lebih mahal, dan akan mengurangi impor. Sebaliknya barang ekspor menjadi murah di pasaran luar negeri dan akan menambah ekspor.
Langkah-langkah yang akan menambah ekspor sehingga menambah penerimaan valuta asing adalah
1.       Memberikan insentif fiskal dan moneter untuk menambah kegiatan dalam produksi barang ekspor.
Insentif-insentif ini antara lain adalah membina kawasan perusahaan dan kawasan bebas pajak (free trade zone), memberikan kemudahan pinjaman, atau memberi subsidi ekspor.
2.       Mewujudkan kestablian upah dan harga.
Pertambahan ekspor sangat tergantung kepada kemampuan ekspor Negara untuk bersaing di luar negeri. Salah satu factor yang menentukan kapasitas bersaing adalah biaya produksi yang rendah. Untuk memastikan biaya produksi tetap rendah, upah dan harga-harga barang dalan negeri perlu distabilkan.
3.       Menurunkan nilai valuta
Seperti telah diterangkan di atas menurunkan nilai valuta bukan saja akan dapat mengurangkan impor tetapi juga akan menambahkan ekspor.
B.      KEBIJAKAN PENGURANGAN PERBELANJAAN
Yang dimaksudkan dengan “kebijakan pengurangan perbelanjaan” adalah langkah-langkah pemerintah untuk mengatasi masalah kekurangan dalam neraca pembayaran dengan mengurangi perbelanjaan agregat dan tingkat kegiatan ekonomi negara. Kebijakan pemerintah untuk mengatasi masalah dalam neraca pembayaran dengan cara “mengurangkan perbelanjaan” akan dilakukan apabila:
1.       Perekonomian telah mencapai kesempatan kerja penuh dan di samping itu juga inflasi telah wujud.
2.       Dalam perekonomian terdapat defisit yang berkepanjangan dalam neraca pembayaran.
Kebijakan “mengurangkan perbelanjaan” akan menurunkan impor, akan tetapi ekspor tidak akan dipengaruhi oleh kebijakan seperti itu. Keadaan ini akan mewujudkan neraca pembayaran yang menguntungkan atau seimbang.
Kebijakan mengurangi perbelanjaan dapat dilaksanakan dengan mengambil langkah-langkah sebagai berikut;
a.       Menaikkan pajak pendapatan.
Pajak ini akan mengurangi pendapatan disposibel dan pengurangan ini akan mengurangi konsumsi rumah tangga.
b.      Menaikkan suku bunga dan menurunkan penawaran uang.
Tujuan ini dapat dicapai dengan menjalankan kebijakan moneter, misalnya dengan menaikkan tingkat cadangan minimum dan menaikkan suku bank (suku diskonto). Pengurangan penawaran uang dan suku bunga yang tinggi akan mempengaruhi investasi. Keadaan ini selanjutnya akan mengurangi pengeluaran agregat.
c.       Mengurangi pengeluaran pemerintah
Oleh karena pengeluaran pemerintah adalah sebagian dari pengeluaran agregat, maka pengurangan pengeluaran pemerintah akan mengurangi pengeluaran agregat dan dapat digolongkan sebagai kebijakan fiskal.
Pendapat saya tentang kebijakan ini:
Saya lebih suka dan  menyetujui jika pemerintah Indonesia menerapkan “Kebijakan Memindahkan Perbelanjaan”. Soalnya ini sangat relevan dengan masalah yang dihadapi oleh Indonesia saat ini dan mungkin salah satu kebijakan yang baik dan benar untuk diambil dan diterapkan oleh pemerintah. Seperti melakukan pembatasan impor daging sapi. Karena moment ini mendekati bulan Ramadhan ini harga cenderung naik. Dan apabila kita lihat, nilai tukar rupiah dengan dollar Amerika sedang turun drastis. Dan mungkin, dengan adanya pembatasan impor daging sapi, kita bisa membuktikan bahwa kualitas daging sapi dalam negeri tak kalah saing dengan kualitas daging sapi di luar negeri. Jika pemerintah memberikan subsidi untuk para peternak-peternak sapi agar memberikan ‘pelayanan’ terbaik untuk sapi-sapinya. Dengan demikian, daging sapi dalam negeri akan laku keras. Karena harganya yang lumayan lebih murah dan kualitasnya tak kalah bagusnya dengan daging sapi impor.
Pesan dari saya: Jika kita, sebagai warga Negara Indonesia yang menghargai produk kita sendiri, lalu siapa yang menghargainya? Dengan cinta produk dalam negeri, maka akan menyumbangkan sedikit pertumbuhan ekonomi Indonesia dan menambah rasa nasionalisme dalam diri kita.

DAFTAR PUSTAKA:
Sukirno, Sadano. 2006. Makro Ekonomi Teori Pengantar. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Minggu, 30 Maret 2014

Sistem Ekonomi Indonesia

Sistem ekonomi yang dianut oleh Indonesia disebut sistem ekonomi Pancasila atau disebut juga demokrasi ekonomi, yang memiliki sejumlah dasar hokum dan ciri khas yang membedakannya di berbagai sistem ekonomi yang diterapkan di negara-negara lain.

Dasar Hukum
Dasar hukum dari penerapan demokrasi ekonomi di Indonesia antara lain;
1.       Pasal 33 UUD 1945
a.       Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan (ayat 1)
b.      Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara-negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh Negara (ayat 2)
c.       Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat (ayat 3)
2.       Penjelasan pasal 33 UUD 1945
a.       Pada pasal 33 tercantum demokrasi ekonomi … Bangun perusahaan yang sesuai dengan itu adalah koperasi (alinea 1)
b.      Perekonomian berdasar atas demokrasi ekonomi … Sebab itu cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak harus dikuasai oleh negara (alinea 2)
c.       Hanya perusahaan yang tidak menguasai hajat hidup orang banyak yang boleh ada di tangan orang-seorang (alinea 3)

Dari dasar hukum yang ada dapat disimpulkan bahwa para pelaku ekonomi yang berkiprah di dalam perekonomian Indonesia terdiri dari; (1) koperasi, (2) pemerintah, dan (3) swasta.

Ciri-ciri
Ciri-ciri yang terkait dengan sistem ekonomi Indonesia (demokrasi ekonomi) adalah
1.       Ciri-ciri positif yang harus dikembangkan;
a.       Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.
b.      Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.
c.       Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
d.      Sumber-sumber kekayaan dan keuangan negara digunakan dengan permufakatan lembaga-lembaga perwakilan rakyat, serta pengawasan terhadap kebijaksanaannya ada pada lembaga-lembaga perwakilan rakyat pula.
e.      Warga negara memiliki kebebasan dalam memilih pekerjaan yang dikehendaki serta mempunyai hak akan pekerjaan dan penghidupan yang layak.
f.        Hak milik perseorangan diakui dan pemanfaatannya tidak boleh bertentangan dengan kepentingan masyarakat.
g.       Potensi, inisiatif dan daya kreasi setiap warga negara diperkembangkan sepenuhnya dalam batas-batas yang tidak merugikan kepentingan umum.
h.      Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh Negara.
2.       Ciri-ciri negative yang harus dihindari;
a.       Sistem free fight liberalism yang menumbuhkan eksploitasi terhadap manusia dan bangsa lain yang dalam sejarahnya di Indonesia telah menimbulkan dan mempertahankan kelemahan struktural posisi Indonesia dalam ekonomi dunia.
b.      Sistem etatisme dalam mana negara beserta apartur ekonomi negara bersifat dominan serta mendesak dan mematikan potensi dan daya kreasi unit-unit ekonomi di luar sektor Negara.
c.       Pemusatan kekuatan ekonomi pada satu kelompok dalam bentuk monopoli yang merugikan masyarakat.

TOKOH-TOKOH EKONOMI INDONESIA
1.       Prof. DR. Soemitro Djojohadikusomo, dikenal dengan sebutan Bengawan Ekonomi Indonesia, pernah menjabat sebagai menteri pada masa kabinet Nasir dan penggagas Gerakan Benteng.
2.       Prof. DR. Widjojo Nitisastro, dikenal sebagai arsitek ekonomi orde baru yang lebih menekankan pada pertumbuhan ekonomi dan mengharapkan terjadinya Trickle Down Effect.
3.       DR. Mohammad Hatta, salah seorang proklamator yang sangat peduli dengan ekonomi kerakyatan dan berjasa dalam pengembangan koperasi di Indonesia sehingga dijuluki Bapak Koperasi.

4.       Aria Wiriaatmadja adalah pendiri koperasi pertama di Indonesia.

Sistem Ekonomi

Definisi Sistem Ekonomi
Suatu Sistem Ekonomi adalah sebuah metoda yang spesifik untuk menjawab masalah pokok ekonomi. Suatu sistem sistem ekonomi meliputi seluruh produsen, konsumen, hokum dan tradisi pada seluruh bentuk dan tingkatan.
Ada tiga bentuk sistem ekonomi yang dikenal di dunia, yaitu;
a.       Sistem Ekonomi Tradisional
b.      Sistem Ekonomi Komando
c.       Sistem Ekonomi Pasar

1.       Sistem Ekonomi Tradisional
Dengan singkat dapat dikatakan bahwa  dalam sistem ekonomi tradisional, pertanyaan-pertanyaan tentang apa yang harus di produksi, bagaimana produksi dilakukan, dan bagaimana distribusi hasil produksi dilakukan, dijawab oleh tradisi.

2.       Sistem Ekonomi Komando
Pada sistem ekonomi komando, keputusan tentang apa yang di produksi, bagaimana cara memproduksi, dan siapa yang menikmati hasil produksi, ditentukan oleh kekuasaan pusat (pemerintah/negara). Dengan kata lain, terdapat proses pengambilan keputusan dan perencanaan ekonomi yang terpusat sehingga sistem ini disebut pula centrally planned economy.

3.       Sistem Ekonomi Pasar
Pada sistem ekonomi pasar, keputusan yang menyangkut alokasi sumber daya dilakukan bukan berdasarkan arahan yang terpusat, melainkan merupakan hasil dari sejumlah keputusan-keputusan independen yang dibuat oleh produsen dan konsumen secara individu. Sistem ekonomi pasar sering juga disebut sebagai price systems, karena perangkat utama yang berperan mengkoordinasikan proses pengambilan keputusan-keputusan ekonomi di dalam sistem ini adalah harga.

4.       Sistem Ekonomi Campuran

Dalam praktek, semua perekonomian yang ada menganut sistem ekonomi campuran, yang merupakan kombinasi dari ketiga sistem yang telah dijelaskan di atas; tradisional, komando, dan pasar. Di dalam setiap perekonomian, sejauh mana kadar penerapan dari masing-masing sistem ekonomi generic tersebut bervariasi Antara satu sektor dengan sektor lainnya. Misalnya, di negara yang cenderung menerapkan ekonomi pasar sekalipun, campur tangan negara dalam sejumlah industri strategis tetap sangat besar.